Hari Kusta Sedunia, FK UMS Dorong Edukasi untuk Hapus Stigma Penyakit Kusta
![]() |
| Hari Kusta Sedunia, FK UMS dorong edukasi untuk hapus stigma penyakit kusta. (Dok. UMS) |
SUARANASIONAL.ID — Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam penanggulangan penyakit kusta.
Dengan catatan 12.798 kasus baru, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dengan jumlah penderita kusta tertinggi, terutama di wilayah tropis.
Menyikapi kondisi tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) menggelar seminar kesehatan daring dalam rangka memperingati Hari Kusta Sedunia.
Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 26 Januari 2026 itu mengusung tema “Dari Takut Menjadi Paham, Dari Stigma Menjadi Empati”.
Seminar ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus mengikis stigma negatif kusta yang selama ini melekat pada penderita kusta.
Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Dekan I FK UMS dr. Ratih Pramuningtyas, Sp.KK., dosen, mahasiswa, hingga alumni kedokteran FK UMS.
Kusta masih dipandang negatif
Diskusi dipandu oleh Dekan FK UMS, Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes, Sp.DVE., Dipl. STD-HIV:AIDS., FINSDV., FAADV.
Dalam pemaparannya, Flora menjelaskan bahwa kusta merupakan penyakit kronis akibat infeksi bakteri Mycobacterium leprae yang menyerang saraf dan kulit.
Jika tidak ditangani, kusta dapat menimbulkan komplikasi berupa kelemahan otot, mati rasa, hingga luka kronis.
Ia menyebutkan, terdapat sembilan daerah dengan jumlah penderita kusta tertinggi di Indonesia, empat di antaranya berada di Pulau Madura, sementara sisanya tersebar di kawasan Indonesia Timur.
Meski dapat disembuhkan, kusta masih kerap dipersepsikan negatif sehingga membuat penderita enggan berobat dan memilih mengisolasi diri.
“Kusta itu, orangnya diam aja udah ketahuan kalau sakit kusta. Jadi ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga, sudah dianya sendiri sakit kusta, tetapi kok ya ternyata selain dia sakit kusta, dia juga menanggung stigma,” jelas Flora.
Bisa disembuhkan dengan deteksi dini
Flora menegaskan bahwa kusta merupakan penyakit menular yang dapat dikendalikan.
Melalui deteksi dini dan pengobatan yang tepat, risiko kecacatan dapat ditekan secara signifikan.
Pemerintah juga menyediakan pengobatan gratis melalui Puskesmas berupa Multi Drug Therapy (MDT) yang dikonsumsi selama 6 hingga 12 bulan.
Pengobatan tersebut tidak hanya efektif menyembuhkan, tetapi juga menurunkan risiko penularan di lingkungan sekitar. Namun, stigma sosial masih menjadi hambatan utama dalam upaya penanganan penyakit ini.
“Banyak masyarakat di sekitar kita, karena penyakit itu terlalu menakutkan, dan terlalu membuat kondisi kulitnya menjadi berbeda daripada yang lain, itu jadi menjauh terus dikucilkan dari lingkungan,” tuturnya.
Target Triple Zero 2030
Menurut Flora, upaya mengatasi kusta tidak bisa hanya dibebankan kepada tenaga medis.
Mahasiswa kedokteran dan masyarakat luas memiliki peran penting sebagai agen edukasi yang mampu menyampaikan informasi secara netral dan empatik.
Menutup diskusi, Flora menyampaikan visi FK UMS untuk mewujudkan Triple Zero pada 2030, yakni nol kasus baru, nol kecacatan, dan nol stigma terhadap penderita kusta.
“Jadi, gimana caranya supaya gak ada kasus baru, gimana caranya supaya gak ada kecacatan, gimana caranya supaya gak ada stempel. Itu yang paling susah,” ujar Flora.
Melalui pendekatan kolaboratif dan komunikasi yang berkelanjutan, FK UMS berharap stigma terhadap kusta dapat dihapus dan angka kasus di Indonesia terus menurun.
“Akhiri stigma sekarang juga, kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi,” pungkasnya.

