Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

AFPI Ungkap Tantangan Pendanaan, Akses Layanan Keuangan Masih Jadi Kendala Utama

AFPI Ungkap Tantangan Pendanaan, Akses Layanan Keuangan Masih Jadi Kendala Utama
AFPI ungkap tantangan pendanaan, akses layanan keuangan masih jadi kendala utama. (Dok. AFPI)

SUARANASIONAL.ID — Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menilai tantangan utama dalam pendanaan di Indonesia tidak semata-mata berkaitan dengan ketersediaan dana, melainkan juga keterbatasan akses serta rendahnya pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan formal.

Ketua AFPI, Entjik S. Djafar, menyampaikan bahwa persoalan akses terhadap perbankan dan lembaga keuangan non-bank masih menjadi hambatan besar, terutama bagi kelompok masyarakat tertentu.

“Tantangan pendanaan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan dana, tetapi juga akses dan pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan formal, baik perbankan maupun lembaga keuangan non-bank,” ujar Entjik dalam agenda CEO Forum 2026 bertajuk Strengthening Demand, Scaling MSMEs, sebagaimana dikutip dari keterangan resmi di Jakarta, Jumat.

Dalam situasi tersebut, industri pendanaan daring atau peer-to-peer lending (pindar) dinilai memiliki peran yang semakin strategis.

Menurut Entjik, pindar kini tidak lagi sekadar menjadi alternatif pembiayaan, tetapi telah berkembang menjadi bagian penting dari infrastruktur keuangan nasional.

Ia menilai kehadiran pindar sangat krusial dalam menjangkau segmen masyarakat underserved dan unbankable yang selama ini sulit mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan konvensional.

Berdasarkan riset kolaborasi AFPI dengan Katadata Insight Center (KIC), industri pindar berperan sebagai penyangga likuiditas rumah tangga melalui pembiayaan multiguna.

Di sisi lain, pendanaan digital juga menjadi katalis pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) produktif.

Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa UMKM penerima pembiayaan pindar mengalami rata-rata peningkatan omzet hingga 121 persen, serta kenaikan aset sebesar 155 persen.

Selain itu, pembiayaan digital turut mendorong adopsi kanal penjualan berbasis digital di kalangan pelaku usaha.

Meski mencatat dampak positif, Entjik menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan publik terhadap industri pindar agar pertumbuhan dapat berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.

“Ke depan, industri pindar harus terus memperkuat transparansi, tata kelola, serta literasi keuangan, agar pertumbuhan industri berjalan berkelanjutan dan bertanggung jawab,” ungkapnya.

AFPI dan KIC juga memaparkan riset bertajuk Dari Alternatif Menjadi Imperatif: Peran Vital Industri Pindar bagi Ekonomi Digital Indonesia.

Studi tersebut menegaskan bahwa pendanaan digital kini telah bertransformasi menjadi elemen penting dalam ekosistem keuangan nasional.

Selain berfungsi menjaga daya beli masyarakat, pindar juga dinilai mampu mempersempit kesenjangan pembiayaan, khususnya bagi segmen yang kerap mengalami penolakan kredit dari bank konvensional.

Tingginya efektivitas layanan ini tercermin dari skor kepuasan pelanggan (Customer Satisfaction Score/CSAT) yang mencapai 82,9 persen, serta tingkat niat penggunaan kembali sebesar 78,3 persen.

Tak hanya berdampak pada level mikro, penyaluran pembiayaan produktif melalui pindar juga memberi efek signifikan terhadap perekonomian nasional.

Riset mencatat, setiap Rp1 pembiayaan produktif yang disalurkan mampu memberikan dampak hingga Rp6 terhadap perekonomian.

Temuan tersebut memperkuat posisi industri pendanaan daring sebagai salah satu pilar penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang inklusif di Indonesia.

slot