Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Perang AS-Iran Memanas, IHSG Terancam Tertekan Pekan Ini, Investor Diminta Waspada

Perang AS-Iran Memanas, IHSG Terancam Tertekan Pekan Ini, Investor Diminta Waspada
Perang AS-Iran Memanas, IHSG Terancam Tertekan Pekan Ini, Investor Diminta Waspada

SUARNASIONAL.ID — Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menjadi sorotan pasar keuangan global. Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah diperkirakan memberi tekanan terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang perdagangan pekan 13-17 Juli 2026.

Selain dipengaruhi sentimen global, pasar domestik juga masih mencermati kondisi fiskal Indonesia yang menjadi salah satu faktor penentu arah investasi dalam negeri.

Konflik AS-Iran memicu sikap hati-hati investor

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menilai meningkatnya ketidakpastian geopolitik membuat investor global lebih memilih strategi defensif dalam mengelola aset mereka.

"Menghadapi tingginya ketidakpastian geopolitik ini, para investor global cenderung mengambil sikap risk-off dan bersikap jauh lebih konservatif dalam mengelola portofolio mereka. Mereka berbondong-bondong menarik modal dari instrumen berisiko tinggi seperti pasar saham dan aset kripto untuk mengamankan likuiditas,"

Menurut David, konflik bersenjata yang kini memasuki fase semakin serius setelah AS dan Iran terlibat konfrontasi militer secara terbuka memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.

Kondisi tersebut mendorong arus dana global berpindah dari aset berisiko menuju instrumen yang dinilai lebih aman, seperti emas dan dolar Amerika Serikat.

Perpindahan modal ini diperkirakan akan menopang kenaikan harga emas dunia sekaligus memperkuat nilai tukar dolar AS di pasar valuta asing.

Kondisi fiskal Indonesia masih dalam batas aman

Di sisi domestik, kondisi makroekonomi Indonesia dinilai tetap terjaga. Kementerian Keuangan mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga semester pertama 2026 mencapai Rp196,5 triliun atau sekitar 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Besaran tersebut masih berada jauh di bawah batas maksimal defisit 3 persen sebagaimana diatur dalam ketentuan perundang-undangan.

Meski demikian, David mengingatkan bahwa pertumbuhan belanja pemerintah yang lebih cepat dibandingkan penerimaan negara tetap perlu menjadi perhatian.

"Kondisi tersebut menuntut pemerintah untuk mengelola pembiayaan negara dengan jauh lebih ketat dan selektif di paruh kedua tahun ini. Langkah ini penting guna meminimalisir risiko penambahan utang baru yang tidak efisien, sekaligus memastikan stabilitas makroekonomi domestik tetap kokoh di tengah gejolak global,"

Data inflasi AS menjadi perhatian pasar

Memasuki perdagangan pekan ini, perhatian investor juga akan tertuju pada sejumlah agenda ekonomi global yang dinilai berpengaruh terhadap arah pasar.

Data inflasi Amerika Serikat atau Consumer Price Index (CPI) Juni yang dijadwalkan rilis pada Selasa diperkirakan menjadi indikator utama untuk membaca peluang perubahan kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed).

Selain itu, pelaku pasar akan mencermati pidato para pejabat Federal Reserve serta publikasi data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura.

Di dalam negeri, nilai tukar rupiah maupun pergerakan IHSG diperkirakan masih rentan mendapat tekanan sebagai dampak lanjutan dari konflik di Timur Tengah.

Rekomendasi saham dari IPOT

Menghadapi kondisi pasar tersebut, IPOT memberikan sejumlah rekomendasi investasi sebagai berikut:

  • Buy on Pullback PGEO
    • Current Price: 1.005
    • Entry: 975
    • Target Price: 1.070 (9,74%)
    • Stop Loss: 945 (-3,08%)
    • Risk to Reward Ratio: 1:3,2

  • Buy LSIP
    • Current Price: 1.295
    • Entry: 1.295
    • Target Price: 1.400 (8,11%)
    • Stop Loss: 1.255 (-3,09%)
    • Risk to Reward Ratio: 1:2,6

  • Buy on Pullback BUVA
    • Current Price: 845
    • Entry: 820-830
    • Target Price: 900 (9,76%)
    • Stop Loss: 795 (-3,05%)
    • Risk to Reward Ratio: 1:3,2
  • Buy Obligasi PBS 038

Proyeksi IHSG menurut MNC Sekuritas

Tim riset MNC Sekuritas memperkirakan IHSG saat ini masih berada pada bagian wave b dari wave (b) dari wave [iv] berdasarkan skenario hitam.

"IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatannya untuk menguji 6.083-6.203, namun cermati area koreksi pada level 5.752-5.797,"

Untuk perdagangan selanjutnya, area support IHSG berada di level 5.486 dan 5.317. Sementara itu, resistance diperkirakan berada pada kisaran 6.007 hingga 6.286.

Daftar rekomendasi saham MNC Sekuritas

ARCI — Buy on Weakness

ARCI naik 4,71 persen ke level 1.000 dengan peningkatan volume pembelian dan berhasil menembus MA20. Selama harga bertahan di atas 920 sebagai batas stoploss, saham ini diperkirakan berada pada awal wave 3 dari wave (C).

  • Buy on Weakness: 970-995
  • Target Price: 1.115 dan 1.225
  • Stoploss: below 920

BMRI — Buy on Weakness

BMRI menguat 0,99 persen ke posisi 4.080 dengan dominasi volume beli, meski masih berada di bawah MA20. Saham ini diperkirakan sedang berada pada bagian wave [b] dari wave B.

  • Buy on Weakness: 3.780-3.850
  • Target Price: 4.180 dan 4.270
  • Stoploss: below 3.710

MINA — Trading Buy

MINA terkoreksi 1,45 persen ke level 272 disertai tekanan jual dan masih bergerak di bawah MA20. Selama mampu bertahan di atas 238, saham ini diperkirakan berada pada bagian wave (iii) dari wave [iii].

  • Trading Buy: 250-266
  • Target Price: 310 dan 336
  • Stoploss: below 238

TAPG — Buy on Weakness

TAPG menguat 0,98 persen ke level 1.540 dengan dukungan volume pembelian dan masih berada di atas MA20. MNC Sekuritas memperkirakan saham ini sedang berada pada bagian wave [ii] dari wave C dari wave (B).

  • Buy on Weakness: 1.490-1.530
  • Target Price: 1.625 dan 1.700
  • Stoploss: below 1.460