Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Bye Credit Card! Pengguna QRIS Sudah Tembus 56 Juta, Tumbuh Lebih Cepat dari Pesaingnya

Pengguna QRIS Sudah Tembus 56 Juta
Ibrahim, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur. (Dok. Ist)

SUARANASIONAL.ID — Transformasi sistem pembayaran digital di Indonesia tengah mencapai puncaknya. Sejak diperkenalkan pada 2019, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mencetak pertumbuhan mencengangkan dan berhasil mengungguli pesaingnya, seperti kartu kredit maupun debit yang telah lebih dahulu hadir.

Tak butuh waktu puluhan tahun, QRIS kini telah menjelma menjadi pilihan utama masyarakat dalam bertransaksi secara digital.

Data terbaru Bank Indonesia per Maret 2025 mencatat, jumlah pengguna QRIS telah menembus 56,28 juta, dengan 38,1 juta merchant yang menerima sistem ini. Sementara perangkat Electronic Data Capture (EDC) yang mendukung ekosistem QRIS kini mencapai 2,3 juta unit.

“Kami tidak menyangka QRIS berkembang secepat ini. Keberhasilan suatu inovasi bisa dilihat dari seberapa cepat ia menjawab kebutuhan masyarakat dan sejauh mana penggunaannya meluas. Pertumbuhan QRIS yang luar biasa ini menunjukkan keberhasilannya,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, dalam acara Capacity Building Media di Malang, Jumat malam (18/7/2025).

Ibrahim juga mengungkapkan bahwa pencapaian QRIS sangat kontras dibandingkan dengan sistem pembayaran lama. Ia mencontohkan bahwa untuk mencapai 50 juta pengguna, kartu kredit dan debit butuh waktu hingga 25 tahun, sedangkan QRIS mencapainya dalam waktu hanya enam tahun.

Sementara itu, Himawan Kusprianto, Deputi Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI KPw Jatim, menjelaskan, pertumbuhan eksponensial QRIS bukan semata karena sosialisasi dari regulator.

Menuurutnya, kemudahan teknologi, tren digitalisasi, dan penetrasi ponsel pintar menjadi katalis utama melesatnya pertumbuhan QRIS. Ditambah lagi, generasi muda, khususnya Gen Z, menjadi motor penggerak utama penggunaan QRIS secara masif.

“Gen Z menjadi pengguna yang sangat potensial karena populasinya besar, yakni sekitar 75,49 juta jiwa atau 27,94 persen dari total penduduk Indonesia,” ungkap Himawan Kusprianto.

Ia juga merinci komposisi generasi lainnya dalam demografi digital Indonesia: milenial 69,9 juta jiwa, generasi X 59,12 juta, baby boomer 31,23 juta, dan generasi alpha 29,9 juta. Kombinasi jumlah yang besar dan akses teknologi tinggi membuat Indonesia menjadi lahan subur untuk adopsi QRIS secara luas.

Tak hanya pengguna individu, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi sasaran utama implementasi QRIS. Menurut BI, hingga Maret 2025, sebanyak 38,1 juta pelaku usaha telah memanfaatkan QRIS, yang sebagian besar merupakan usaha mikro.

“QRIS menjadi fondasi digital yang sangat strategis bagi pelaku UMKM, yang memang mendominasi struktur ekonomi nasional,” ujar Himawan Kusprianto.

Secara rinci, komposisi pengguna QRIS di sektor usaha terdiri dari 57,52% usaha mikro, 29,59% usaha kecil, 5,89% usaha menengah, dan 3,37% usaha besar. Ini menunjukkan betapa pentingnya QRIS dalam mendukung inklusi keuangan dan efisiensi usaha rakyat.

Inovasi QRIS kini tidak terbatas dalam negeri. Indonesia telah membuka akses pembayaran lintas batas atau cross border payment melalui QRIS. Hal ini menjadi bagian dari komitmen global dalam meningkatkan efisiensi layanan pembayaran antarnegara, yang juga dibahas dalam forum-forum seperti G20 dan ASEAN.

“Peningkatan efisiensi layanan pembayaran lintas negara merupakan komitmen global, termasuk di forum G20 dan ASEAN. Indonesia telah memasukkannya dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030,” tambahnya.

Melalui program Regional Payment Connectivity, QRIS kini telah terhubung dengan sistem pembayaran di Thailand, Malaysia, dan Singapura. Dalam waktu dekat, jangkauannya akan diperluas ke negara-negara strategis lain seperti India, Korea Selatan, Jepang, dan Uni Emirat Arab (UEA).

https://globaldebitcard.net/