5 Kebiasaan Saat Pakai Ponsel yang Bisa Bikin Kulit Kusam dan Cepat Menua
![]() |
| Penggunaan ponsel dalam waktu lama disebut dapat memengaruhi kondisi kulit melalui beberapa mekanisme. (Dok. Ist) |
SUARANASIONAL.ID — Menatap layar ponsel selama berjam-jam ternyata tidak hanya berkaitan dengan mata lelah dan masalah postur. Sejumlah mekanisme yang berkaitan dengan cahaya biru, kurang tidur, posisi leher, hingga kontak langsung ponsel dengan wajah juga disebut dapat memengaruhi kondisi kulit.
Meski demikian, paparan cahaya biru dari layar perangkat digital jauh lebih rendah dibandingkan cahaya matahari. Karena itu, penggunaan ponsel tidak serta-merta membuat kulit menua dalam waktu singkat.
1. Cahaya biru dan perubahan pada kulit
Perangkat digital memancarkan cahaya biru atau High-Energy Visible (HEV) Light dengan panjang gelombang sekitar 380–500 nanometer. Cahaya tersebut dapat mencapai lapisan dermis dan berpotensi memicu pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) yang berkaitan dengan stres oksidatif.
Kondisi tersebut dapat mengaktifkan matrix metalloproteinase-1 (MMP-1), enzim yang berperan dalam pemecahan kolagen dan elastin serta dapat menghambat pembentukan kolagen baru.
Dalam jangka panjang, mekanisme tersebut dikaitkan dengan munculnya garis halus, kerutan, dan berkurangnya elastisitas kulit.
Cahaya tampak juga dapat berinteraksi dengan reseptor opsin-3 pada sel penghasil pigmen. Mekanisme ini dapat memberi sinyal pada kulit untuk memproduksi melanin sehingga berpotensi memperburuk hiperpigmentasi atau melasma.
Efek pigmentasi tersebut disebut lebih berpotensi terjadi pada kulit dengan kadar melanin lebih tinggi, khususnya tipe Fitzpatrick III–VI, dibandingkan tipe I dan II.
2. Kurang tidur ikut memengaruhi kulit
Paparan cahaya biru pada malam hari juga berkaitan dengan ritme sirkadian. Cahaya tersebut dapat menghambat pelepasan melatonin, hormon yang membantu mengatur siklus tidur.
Ketika waktu dan kualitas tidur terganggu, proses pemulihan alami kulit pada malam hari juga dapat ikut terpengaruh. Kondisi ini dapat membuat kulit terlihat lebih kusam, lelah, dan mengalami dehidrasi serta membuat tanda penuaan tampak lebih jelas.
3. Kebiasaan menunduk memberi tekanan pada leher
Masalah lain bukan berasal dari layar itu sendiri, melainkan posisi tubuh saat menggunakannya. Kebiasaan menundukkan kepala berulang kali membuat kulit leher terlipat pada area yang sama selama berjam-jam.
Kulit leher lebih tipis dan memiliki lebih sedikit kelenjar minyak dibandingkan kulit wajah. Kondisi tersebut membuat area ini lebih rentan terhadap kekeringan dan perubahan elastisitas.
Menurut dr. Chetna Chhabra, General Physician and Cosmetologist, lapisan dermis leher dapat hingga 45 persen lebih tipis dibandingkan kulit wajah dan memiliki lebih sedikit kelenjar sebaceous untuk membantu menjaga kelembapan.
Posisi kepala yang menunduk sekitar 45 hingga 60 derajat juga disebut dapat meningkatkan beban pada otot dan kulit leher hingga sekitar 50–60 pon.
Untuk mengurangi tekanan tersebut, perangkat sebaiknya digunakan mendekati sejajar dengan posisi mata. Perawatan kulit juga tidak perlu berhenti di wajah, tetapi dapat diperluas hingga area leher dan tulang selangka.
4. Ponsel yang kotor bisa memicu masalah kulit
Risiko lainnya muncul ketika permukaan ponsel bersentuhan langsung dengan wajah. Layar perangkat dapat menjadi tempat berkumpulnya bakteri, minyak, dan sisa makeup.
Saat ponsel yang hangat ditempelkan ke pipi, tekanan dan gesekan berulang dapat memicu acne mechanica, yakni jerawat yang berkaitan dengan gesekan atau tekanan.
Kombinasi gesekan, panas, dan lingkungan yang lembap di antara perangkat dan kulit dapat meningkatkan risiko pori-pori tersumbat serta peradangan. Jerawat kemudian dapat muncul di sekitar tulang pipi hingga garis rahang.
5. Seberapa besar pengaruh layar terhadap kulit?
Kekhawatiran mengenai cahaya biru dari ponsel dan laptop perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Penelitian komprehensif yang dilakukan oleh Kepala Ilmuwan Fotobiologi Beiersdorf menunjukkan bahwa intensitas cahaya biru dari layar buatan relatif kecil dibandingkan cahaya matahari alami.
Dalam penelitian tersebut, paparan monitor selama satu minggu penuh tanpa jeda pada jarak sekitar 30 sentimeter menghasilkan paparan cahaya biru yang disebut setara dengan sekitar satu menit berada di luar ruangan pada hari musim panas yang cerah.
Artinya, layar laptop bukan sumber cahaya tampak paling kuat yang dihadapi sehari-hari. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela maupun pencahayaan LED di dalam ruangan dapat memberikan paparan yang lebih besar dibandingkan layar.
Karena itu, penggunaan ponsel tidak membuat kulit tiba-tiba menua dalam semalam. Namun, kebiasaan menggunakan perangkat digital dalam waktu lama tetap perlu diimbangi dengan pola penggunaan yang lebih bijak dan perawatan kulit yang sesuai.
Penggunaan tabir surya berwarna dan produk dengan kandungan antioksidan disebut dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kulit tetap terlindungi. Mengurangi durasi menatap layar, memperbaiki posisi perangkat, serta menghindari kontak langsung ponsel dengan wajah juga dapat membantu mengurangi faktor-faktor lain yang berpotensi memengaruhi kondisi kulit.
