VinFast Siapkan Ribuan Stasiun Tukar Baterai untuk Genjot Pasar Motor Listrik Indonesia
![]() |
| VinFast menyiapkan strategi pengembangan motor listrik di Indonesia melalui baterai dan infrastruktur pendukung. (Dok. Ist) |
SUARANASIONAL.ID — VinFast menyiapkan sejumlah langkah untuk mempercepat pemasaran motor listrik di Indonesia, mulai dari skema baterai dan battery swapping hingga perluasan jaringan dealer serta rencana perakitan lokal. Strategi tersebut disiapkan ketika adopsi motor listrik masih menghadapi persoalan biaya, infrastruktur, pembiayaan, dan standardisasi baterai.
Indonesia menjadi salah satu dari lima pasar prioritas VinFast untuk ekspansi lini e-scooter mulai 2026, bersama Filipina, India, Thailand, dan Malaysia. Untuk tahap awal, produsen asal Vietnam itu menghadirkan tiga model, yakni Evo, Feliz II, dan Viper yang meluncur pada pertengahan Juli 2026.
Ketiga model tersebut menyasar kelompok pengguna yang cukup luas, dari pelajar dan pekerja profesional hingga keluarga muda serta pekerja gig economy seperti pengemudi ride-hailing dan kurir.
Bagi kelompok tersebut, efisiensi biaya dan kemampuan kendaraan menunjang mobilitas sehari-hari menjadi pertimbangan penting. Karena itu, VinFast tidak hanya mengandalkan produk, tetapi juga membangun ekosistem pendukung kendaraan listrik.
Tantangan adopsi motor listrik
Pengamat otomotif Yannes Pasaribu menilai perpindahan konsumen dari motor bensin ke motor listrik masih menghadapi sejumlah hambatan. Persoalannya mencakup biaya awal pembelian, kesiapan infrastruktur di luar kota besar, layanan purna jual, hingga nilai jual kembali kendaraan.
"Tantangan utama masyarakat beralih ke motor listrik masih berkisar pada Capex, kepastian infrastruktur di luar kota besar, konsistensi layanan purna jual, dan residual value yang belum stabil hingga kini," ujarnya, dikutip Sabtu (15/8/2026).
Menurut Yannes, persoalan baterai dan pembiayaan juga menjadi bagian dari tantangan tersebut. Fragmentasi standar baterai antar merek membuat konsumen masih menghadapi keterbatasan dalam memilih dan menggunakan kendaraan listrik.
"Kebiasaan baterai harus dimiliki, pembiayaan ritel yang belum kompetitif, serta fragmentasi standar baterai antar merek juga masih menghambat proses adopsinya," ucapnya.
Ia menilai konsumen Indonesia juga membutuhkan bukti nyata mengenai manfaat motor listrik dalam penggunaan sehari-hari. Selama belum banyak pengguna yang merasakan penghematan secara langsung, laju adopsi massal dinilai masih akan berjalan lambat.
"Jadi, solusinya terletak pada fokus membangun bukti operasional nyata di jalanan, memperkuat ekosistem layanan, dan menyederhanakan akses pembiayaan agar perpindahan terasa aman dan menguntungkan," tuturnya.
Investasi yang dibutuhkan untuk membangun ekosistem tersebut juga tidak kecil dan membutuhkan waktu panjang.
"Untuk itu diperlukan investasi yang sangat besar untuk waktu yang cukup panjang antara 5-10 tahunan ya," ucapnya.
VinFast dorong skema tukar baterai
Untuk menjawab sebagian persoalan tersebut, VinFast menawarkan kebijakan baterai yang lebih fleksibel, termasuk skema langganan baterai. Pilihan ini ditujukan untuk menekan biaya awal kepemilikan motor listrik.
Perusahaan juga menyiapkan battery swapping atau penukaran baterai untuk mengurangi waktu yang dibutuhkan pengguna ketika membutuhkan energi tambahan. Skema tersebut terutama ditujukan bagi pengguna dengan mobilitas tinggi karena waktu operasional menjadi faktor penting.
VinFast mengembangkan model penggunaan baterai yang menggabungkan pengisian daya di rumah dengan sistem battery swapping. Dengan pendekatan tersebut, pengguna dapat memilih metode yang sesuai dengan kebutuhan mobilitas masing-masing.
Pengembangan jaringan penukaran baterai dilakukan bersama V-Green. Stasiun percontohan mulai dihadirkan di Jakarta sebagai bagian dari pengembangan infrastruktur awal.
Pada 2026, VinFast menargetkan pembangunan ribuan stasiun battery swapping di Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya. Pembangunan infrastruktur dilakukan bersamaan dengan perluasan jaringan dealer dan distribusi kendaraan.
Jaringan dealer diperluas hingga ratusan outlet
Dari sisi penjualan, VinFast telah menggandeng puluhan mitra dealer di sejumlah kota besar, termasuk Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali.
Perusahaan menargetkan jaringan tersebut berkembang hingga ratusan outlet di seluruh Indonesia pada akhir 2026. Pengembangan jaringan juga diarahkan untuk memperkuat kualitas layanan purna jual.
VinFast turut membuka peluang agar e-scooter masuk ke layanan mobilitas melalui kerja sama dengan mitra ekosistem, termasuk potensi kolaborasi bersama Green SM. Langkah ini diarahkan untuk mengembangkan penjualan ritel sekaligus memenuhi kebutuhan armada komersial.
Perakitan lokal disiapkan mulai 2027
Persaingan di pasar motor listrik Indonesia juga mendorong VinFast menyiapkan strategi lokalisasi secara bertahap. Pada tahap awal, kendaraan akan menggunakan skema Completely Built-Up (CBU), sebelum perusahaan beralih ke perakitan lokal dengan skema Completely Knocked Down (CKD) pada 2027.
CEO VinFast e-Scooter Indonesia, Yordan Satriadi, mengatakan efisiensi operasional dan pengelolaan rantai pasok menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam membangun daya saing.
“Pada tahap awal, daya saing kami dibangun melalui efisiensi operasional dan pengelolaan rantai berskala besar,” ujar Yordan Satriadi.
“Seiring meningkatnya tingkat lokalisasi, struktur biaya dan kemandirian rantai pasok kami juga akan semakin kuat,” ujarnya.
Dengan rencana tersebut, strategi VinFast di pasar motor listrik Indonesia mencakup beberapa aspek sekaligus, mulai dari model langganan baterai, jaringan battery swapping, perluasan dealer, integrasi layanan mobilitas hingga lokalisasi produksi.
Yannes menilai langkah investasi tersebut menunjukkan keseriusan VinFast memasuki pasar motor listrik Indonesia.
"VinFast berani berinvestasi di sini," tutur Yannes Pasaribu.
