Banyak Keluar Keringat Belum Tentu Banyak Kalori Terbakar, Ini Penjelasannya
![]() |
| Aktivitas olahraga dapat memicu produksi keringat, tetapi jumlahnya tidak menjadi ukuran langsung kalori yang terbakar. (Dok. Ist) |
SUARANASIONAL.ID — Berkeringat saat berolahraga sering dianggap sebagai tanda tubuh sedang membakar banyak kalori. Padahal, jumlah keringat yang keluar tidak bisa dijadikan patokan langsung untuk mengetahui seberapa banyak energi yang telah digunakan tubuh.
Keringat pada dasarnya merupakan mekanisme alami tubuh untuk menurunkan suhu. Ketika suhu tubuh meningkat, tubuh mengeluarkan cairan melalui kelenjar keringat untuk membantu proses pendinginan.
Karena itu, seseorang bisa berkeringat deras tanpa membakar kalori dalam jumlah besar. Sebaliknya, olahraga dengan intensitas tinggi di ruangan sejuk dapat membakar banyak kalori meski produksi keringat relatif lebih sedikit.
Mengapa jumlah keringat berbeda?
Banyak faktor memengaruhi seberapa banyak seseorang berkeringat. Suhu dan kelembapan lingkungan, jenis pakaian, ukuran tubuh, hingga faktor genetik dapat membuat produksi keringat setiap orang berbeda.
Contohnya, yoga dengan intensitas ringan di ruangan panas dapat membuat tubuh bercucuran keringat. Namun, energi yang digunakan belum tentu lebih besar dibandingkan aktivitas olahraga berintensitas tinggi di tempat yang lebih sejuk.
Kalori yang terbakar ketika berolahraga lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas fisik, termasuk kerja otot, peningkatan detak jantung, serta energi yang digunakan tubuh selama bergerak.
Cara mengukur intensitas olahraga
Daripada menjadikan keringat sebagai ukuran, ada beberapa indikator yang lebih berguna untuk melihat seberapa berat aktivitas fisik dilakukan.
Detak jantung dapat menjadi salah satu indikator karena peningkatannya biasanya menunjukkan bahwa jantung dan paru-paru bekerja lebih keras.
Tingkat pengerahan tenaga atau RPE juga dapat digunakan. Skala ini mengukur seberapa berat olahraga dirasakan oleh tubuh, mulai dari sangat mudah hingga sangat sulit.
Indikator lainnya adalah tes bicara. Pada aktivitas intensitas sedang, seseorang umumnya masih dapat berbicara tetapi tidak mampu bernyanyi, sedangkan olahraga berat dapat membuat berbicara satu kalimat saja terasa sulit.
Olahraga di tempat panas belum tentu membakar lebih banyak kalori
Aktivitas seperti hot yoga atau hot cycling memang dapat terasa lebih melelahkan karena tubuh harus bekerja untuk menjaga suhu tetap seimbang.
Kondisi tersebut dapat membuat detak jantung meningkat dan keringat keluar lebih banyak, tetapi bukan berarti jumlah kalori yang terbakar otomatis jauh lebih tinggi.
Beban tambahan yang dirasakan tubuh dalam kondisi panas lebih berkaitan dengan proses pengaturan suhu tubuh daripada peningkatan pembakaran lemak.
Sauna juga bukan cara utama membakar lemak
Hal serupa berlaku ketika seseorang berada di sauna. Suhu panas dapat membuat detak jantung meningkat, tetapi energi yang terbakar tetap sangat kecil dibandingkan aktivitas yang melibatkan gerakan tubuh secara aktif.
Berat badan yang turun setelah berada di sauna juga bukan berarti lemak tubuh berkurang. Penurunan tersebut terutama berasal dari cairan tubuh yang hilang melalui keringat dan akan kembali setelah tubuh mendapatkan asupan cairan.
Waspadai dehidrasi akibat terlalu banyak berkeringat
Keringat berlebihan justru dapat meningkatkan risiko dehidrasi apabila cairan yang hilang tidak segera digantikan. Kondisi tersebut dapat ditandai dengan pusing, kelelahan, kebingungan, hingga penurunan performa.
Karena itu, mencukupi kebutuhan air selama berolahraga tetap penting, terutama ketika aktivitas dilakukan dalam kondisi panas atau menyebabkan tubuh banyak mengeluarkan keringat.
Pada akhirnya, keringat hanya menunjukkan bahwa tubuh sedang berusaha mengatur suhu, bukan ukuran langsung keberhasilan pembakaran kalori. Jenis olahraga, durasi, dan intensitas aktivitas jauh lebih menentukan jumlah energi yang digunakan tubuh.
